6/20/13

Anak Alay di Industri Hiburan Televisi

NOLKILO - Saat ini Anak Alay menjadi sebuah kebutuhan dalam tayangan hiburan televisi. Beberapa remaja alay siap menjadi penonton bayaran sehingga bisa menjadi peluang mencari nafkah. Mereka ikut syuting dan menjadi pemain figuran (extras). Bahkan ada yang rela merantau meninggalkan kampung halamannya hanya untuk bekerja sebagai anak alay.

Anak alay akan dikordinir oleh korlap dan bos penyalur anak alay atau Agensi yang sudah bekerja sama dengan beberapa stasiun televisi dan produser acara. Tarif menyewa jasa anak alay dihitung per episode, sekitar Rp 35 ribu dikalikan jumlah penonton. Uang yang diterima anak alay akan dipotong pihak agensi sehingga anak buah hanya menerima sekitar Rp 30 ribu. Jika melalui korlap, anak alay hanya menerima sekitar Rp 27 ribu.

Bos penyalur anak alay atau Agensi memiliki anak buah langsung yang siap bekerja sebagai anak alay. Saat order melimpah mereka akan menggandeng koordinator lapangan yang bertugas mengumpulkan anak alay dari berbagai daerah. Setiap anak alay harus berpenampilan menarik serta bisa bertingkah heboh dan aneh agar acara televisi menjadi ramai. 

Pekerjaan anak alay dirasakan menguntungkan karena mendapat bayaran cash dan jatah makan. Tetapi beberapa stasiun televisi tidak menyediakan makan sehingga Uang bayaran hanya cukup untuk transportasi dan makan saat syuting berlangsung. Seorang anak alay yang mendapat pekerjaan di beberapa acara televisi dalam sehari ternyata bisa mengumpulkan uang Rp 100 ribu. Jumlah yang lumayan.

Anak Alay yang bertugas sebagai penonton berbayar adalah sebuah gejala baru komoditas yang menguntungkan di kota besar dalam industri hiburan di televisi.

Pengisi acara serta penonton alay sering bertingkah berlebihan seperti melakukan hal-hal yang tidak lazim agar bisa eksis. Saat beraksi di kamera maka semakin bergaya heboh, berani, kreatif, gokil, atau meniru banci si anak alay akan terus dipakai mendapat kesempatan peluang untuk rutin tampil di televisi.

No comments:

Post a Comment